
Banjarmasin – Biaya hidup mahasiswa tahun ini di Banjarmasin kian meningkat akibat kenaikanharga pangan dan juga biaya sewa. Lonjakan harga ini disebabkan krisis iklim yang menjadi pemicu gagalnya panen, melonjaknya biaya pupuk, dan terganggunya rantai pasok. Biaya sewaseperti sewa kos juga ikut meningkat karena meningkatnya permintaan sewa dari para mahasiswa perantau, biaya utilitas seperti air, listrik, dan internet yang juga meningkat. Lalu, keterbatasan lahan dan ruang tinggal juga menjadi faktor yang memengaruhi.
Kenaikan harga-harga ini memengaruhi biaya Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang juga berakibat pada kenaikan biaya hidup para mahasiswa. Dengan meningkatnya biaya hidup, penyesuaian antara pengeluaran dan jatah uang bulanan pun menjadi tantangan tersendiri bagimahasiswa. Para mahasiswa harus benar-benar mengatur keuangan mereka untuk bisa bertahanselama 1 bulan penuh, terutama mahasiswa perantau.
Dilansir dari postingan akun Instagram @urbanjar.id, berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan mengenai KHL, biaya hidup di Kalimantan selatan mencapai Rp4.112.552 dan menempati posisi ke-20 nasional. Hal ini menunjukkan bahwa biaya hidup di Kalimantan Selatan termasuk tinggi disandingkan dengan daerah lainnya, terutama untuk para mahasiswa.
Beberapa mahasiswa membenarkan kenyataan tersebut dan khawatir akan kondisi ekonomi mereka kedepannya.
“Biaya hidup mahasiswa sekarang mulai mengkhawatirkan. Harga kos, makan, dan transportasiterus naik,” ujar R.K.R. (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), didukung A.R. (S-1Manajemen) dan seorang mahasiswa anonim. Sementara itu, M.F. (S-1 Manajemen) menilai kondisi tersebut belum darurat, tetapi akan semakin berat jika ekonomi terus memburuk.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak mahasiswa memilih bekerja sambilan. Menurut M.F., R.A., dan A.R., pekerjaan sambilan membantu mahasiswa tetap kuliah, mengurangi bebanorang tua, serta melatih tanggung jawab dan kemandirian. Namun, mahasiswa anonim dan R.K.R. menilai pekerjaan sambilan juga membuat mahasiswa kelelahan dan mengganggu fokus perkuliahan.
Terkait solusi, para mahasiswa menilai bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah cukup membantu, tetapi belum mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka mendorong kampus danpemerintah menyediakan fasilitas pendukung seperti kantin murah, internet gratis, peluang kerjafleksibel, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi mahasiswa.
Pada akhirnya, mahasiswa berada dalam posisi dilematis yang mengkhawatirkan karena meningkatnya biaya hidup di Kalimantan Selatan. Tekanan ekonomi ini nyata, mulai dari terpaksa bekerja sambilan untuk bertahan hidup hingga menghadapi kenyataan bahwa bantuan pendidikan tidak cukup untuk menambal pengeluaran harian. Oleh karena itu, birokrasi kampus dan pemerintah harus bekerja sama dan mengambil tindakan nyata untuk mencegah penurunan kualitas akademik dan kesejahteraan mahasiswa. Tindakan ini dapat berupa memberikan subsidi, memberikan lebih banyak fleksibilitas untuk lapangan kerja, dan menetapkan harga yang lebih adil bagi mahasiswa.
Jurnalis:
-Fazal Habibie @fazal_habibi3
-Abghi Ajriya Tama @abghiajrytm
Redaktur:
-Ilham Maulana Ramadhan @ilhamta_23
