Banjarmasin – Menjadi berprestasi adalah impian bagi sebagian besar mahasiswa. Namun dalam praktiknya, hal ini tidak lah mudah untuk diwujudkan. Adapun tolak ukur seorang mahasiswa dapat dikatakan berprestasi tidak hanya dari nilai akademik dengan perolehan IPK tinggi, namun bisa juga dari peraihan juara lomba di bidang non akademik. Mungkin sering kali banyak mahasiswa yang ingin berprestasi namun bingung harus mulai dari mana, bahkan ada yang mengalami kesulitan untuk memanajemen waktu dalam kesibukan kegiatannya. Oleh karena itu, simak tips dibawah ini seputar berprestasi, memanajemen waktu dan menghadapi kesulitan yang ada.
Tips Berprestasi
Siti Indah Melani selaku mahasiswa FEB ULM yang baru-baru ini terpilih sebagai Mawapres Jurusan IESP akan membagikan tips seputar bagaimana cara berprestasi. Menurutnya, tips utama untuk berprestasi ialah memiliki niat dan kemauan serta kerja keras yang sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan organisasi, volunteer, dan lomba-lomba akademik maupun non akademik lainnya. Jadi dari kegiatan tersebut dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang baru.
“Prestasi hanya sebuah apresiasi bonus dari kerja keras. Kita tidak bisa menyebut diri sendiri sebagai seorang yang berprestasi karena kita tidak mampu sepenuhnya menilai diri kita sendiri,” tambahnya saat dihubungi via Whatsapp.
Tak hanya itu, seorang mahasiswa FEB ULM Aminah Cutari Zahra yang baru-baru ini meraih pencapaian sebagai pembicara terbaik di Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2021 Tingkat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) membagikan tips berprestasi dari sudut pandang dirinya. Ia menuturkan bahwa tips untuk berprestasi ialah memahami potensi diri masing-masing lalu mengembangkan potensi tersebut dan terus berlatih, serta yang tak kalah penting adalah berani mencoba untuk mengikuti berbagai perlombaan.
“Semua orang pasti bisa berprestasi asalkan dia tau potensinya. Prestasi ada berbagai macam tidak hanya prestasi akademik. Jika kita melihat potensi diri kita di non akademik maka kembangkanlah. Untuk mengetahui prestasi non akademik ini hal yang paling penting adalah bagaimana kita tahu potensi apa yang ada dalam diri kita yang bisa kita maksimalkan. Misalnya Si A punya bakat menulis, asah saja terus kemampuan menulisnya dan ikuti berbagai perlombaan karena kalau kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan tau apa yang menjadi potensi dalam diri kita,” terangnya.
Time Management Versi Mereka
Selain berprestasi, kedua mahasiswa sebelumnya juga turut aktif dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), lantas bagaimana cara mereka membagi waktu ditengah kesibukan yang ada?
Mahasiswa yang akrab disapa Tari tersebut mengungkapkan bahwa time management yang dirinya miliki sampai saat ini pun tak bisa dikatakan sudah baik, akan tetapi ketika seseorang memiliki prioritas dan tujuan pasti ia akan berusaha membagi waktu dengan maksimal.
“Misalnya saya mengikuti UKM LPM-JK dengan tujuan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidang jurnalistik, sedangkan di sisi lain sebagai mahasiswa saya juga memiliki prioritas dan tanggung jawab dalam melaksanakan proses pembelajaran akademik untuk tetap bisa memberikan hasil yang terbaik. Sehingga konsekuensinya adalah saya harus mengorbankan waktu “nongkrong” atau hal-hal yang kurang bermanfaat, karena waktu yang tersisa dari kuliah dialihkan untuk pengembangan skill melalui UKM atau organisasi,” jelasnya.
Di sisi lain, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Siti Indah Melani merangkum 3 tips yang ia terapkan dalam membagi waktu saat kuliah serta organisasi, yaitu pertama selalu mengutamakan prioritas, mana yang harus segera dikerjakan. Kedua, membuat jadwal dan timeline, serta harus dikerjakan. Terakhir, jangan menunda tugas yang diberikan agar tidak tertumpuk.
Melewati Kesulitan Yang Ada
Tak dapat dipungkiri mengikuti banyak kegiatan seperti lomba, kuliah serta turut aktif dalam organisasi tidaklah mudah. Bahkan ada beberapa orang yang mungkin merasa keteteran serta menyerah di tengah jalan. Lantas bagaimana mereka mampu melewatinya?
Siti Indah Melani menuturkan bahwa tidak ada kata sulit, namun yang ada adalah tantangan. Menurutnya, tantangan membagi waktu kuliah, organisasi, dan lomba-lomba yang diikuti itu tergantung bagaimana melihat mana yang perlu didahulukan dan mana yang perlu dikerjakan setelahnya. Ia selalu memprioritaskan waktu, berusaha agar setiap waktu yang dilalui tidak terjalani dengan sia-sia.
Di lain sisi, Aminah Cutari Zahra menyatakan bahwa selama pandemi ini ia cukup terbantu dalam menghadapi kesulitan membagi waktu yang ada karena bisa multitasking, selagi tau mana yang menjadi prioritas. Namun ia menambahkan, kadang ada fase dimana dirinya sendiri merasa lelah dan memikirkan kembali keputusannya dalam mengikuti berbagai kegiatan. Akan tetapi ia selalu mengingat tujuan awal dan seberapa banyak ilmu yang akan ia dapatkan ketika melaksanakan kegiatan itu.
“Kalau misalnya sedang berada di fase yang capek banget. Saya biasanya mengatasi dengan me time, bisa dengan tidur, makan, nonton serta bila perlu tidak mengaktifkan handphone dalam beberapa jam supaya benar-benar merefresh diri kita,” ucapnya.
Dari kisah mereka kita paham bahwa untuk menjadi mahasiswa berprestasi perlu tekad dan kerja keras. Kesuksesan yang diraih pun tidak akan datang secara instan atau ‘cuma-cuma’ dalam kehidupan kita. Semuanya perlu proses serta kemauan untuk bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Setiap orang pasti bisa asalkan memiliki niat, kesungguhan, kerja keras serta jangan lupa yang paling penting diimbangi dengan doa.
Jurnalis:
Nur Fikri Hapip
Noor Syifa Aulia
Redaktur:
Aminah Cutari Zahra
